SlideShow

0

TUKEMAS


Prasasti TUK MAS merupakan salah satu prasasti peninggalan masa kerajaan MataramKuno di wilayah Jawa Tengah. Prasasti ini ditemukan di daerah kaki Gunung Merbabu tepatnyadi Desa Dak Awu, Kabupaten Magelang. Prasasti ini terpahat pada sebuah batu yang berada di dekat sumber mata air “Tuk Mas” yang berarti “mata air emas”  Ditulis dalam bahasa Sanskrit  dan menggunakan aksara Pallava-Grantha
yang diperkirakan berasal dariwilayah India Selatan. Meskipun tidak memiliki angka tahun pembuatan, namun prasasti inidianggap sebagai peninggalan tertua dari Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada penggunaan aksara Pallava-Grantha yang berkembang antara tahun 500-700Masehi.



Huruf Pallava Grantha Vokal


 Huruf Pallava Grantha Konsonant


  Angka Pallava Grantha

Prasasti Tuk Mas memuat sejumlah ICONOGRAPHY SYMBOLS yang dipahatkan pada sebuah batu dengan sebaris aksara Pallawa Grantha
yang tertulis di bagian bawahnya. Simbol-simbol tersebut antara lain adalah roda(Chakra)dengan 16 jeruji, sebuah GADA, 2 buah tempat air(Purna Kumbhas),sebuah tombak bermata tiga(Trisula), sebuah Kapak (Parasu),sebuah tongkat, sebilah pisau dan 4 buah batu rosetta bermotif teratai. Di samping itu juga terdapat sejumlah simbol yang hingga kini belum dapat terdefinisikan secara sempurna .


Secara umum, beberapa dari simbol-simbol tersebut biasa diassosiasikan dengan tokoh Siva.Selain itu terdapat pula sejumlah simbol yang juga biasa di assosiasikan dengan tokoh Vishnu.Karena lokasi penemuan prasasti yang berada di sekitar sumber mata air yang mengalir, maka Dr. Nicolaas J. Krom mengatakan bahwa wilayah tersebut dahulu merupakan tempat suci yang secara khusus dipersembahkan bagi pemujaan Dewa Brahma. Atau dengan kata lain merupakan suatu“PenTIRTAan” 
Berikut adalah terjemahan baris kalimat pada bagian bawah Prasasti Tuk Mas :


Gambar Prasasti Tuk Mas
 Terjemahan Prasasti Tuk Mas Dalam Bahasa Sanskrit
kvachit su chyam buruh anujata – kvachichila valuka nirgat eyam

kvachit prakirnna subha sita toya – samprasruta medhyakariva Ganga

“Mata air ini lahir dari teratai putih yang membawa kemurnian. Dalam beberapa bagian mengalir keluar dari batu dan pasir dan di satu tempat lain menyebarkan air yang sejukdan jernih mengalir di sepanjang, demikian seperti halnya sungai Gangga”. 





Secang, Jawa Tengah
robertsukasuka@2012, November 25
0

DJELADJAH SITOES & TJANDI DI SETJANG


DJELADJAH SITOES & TJANDI DI SETJANG 
Bersama KOTA TOEA MAGELANG 
Minggu, 25 November 2012

Magelang di kenal sebagai wilayah yang kaya akan berbagai peninggalan agama Hindu danBudha. Baik berupa candi, situs, artefak maupun benda-benda lainnya. Di berbagai tempat dapatdi pastikan memiliki peninggalan ini. Salah satunya yang terkenal adalah Candi Borobudur.Meski demikian di berbagai penjuru masih terpendam harta karun yang tak ternilai harganya ini.Sedemikian banyaknya peninggalan-peninggalan tersebut sehingga kawasan ini layak di sebut
dengan “KOTA SERIBU CANDI”.
 Termasuk di wilayah seputar Secang Kabupaten Magelang. Di sini masih dapat kita temuiberbagai peninggalan. Seperti Candi Retno, Situs Bengkung, Situs Tidaran, Tuk Mas dan lain-lain.
Jelajah pertama kita yaitu Situs Bengkung yang berada di Dusun Bengkung, Desa Candi Retno, Kecamatan Secang,Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di Situs Bengkung kini masih bisa ditemui beberapa komponen bangunan candi, namun yang sangat disayangkan dari komponen tersebut ialah keberadaannya kurang terpelihara dengan baik. batu-batu tersebut banyak yang tercecer dipersawahan dan di halaman rumah warga.



 
Di halaman rumah warga terdapat beberapa tumpuk batu candi yang digunakan sebagai pondasi rumah dan dijadikan sebagai penghias taman.

Kemudian Kita yang dibantu KOMUNITAS KOTA TOEA MAGELANG, KOMUNITAS BATU TUA YOGYA DAN KASKUS kemudian bergegas menelusuri berbagai tempat didesa Bengkung, melewati jalan setapak,jalan naik turun, sungai dan rimbunan pohon akhirnya kita temukan Arca Nandi yang berada disebelah Mbelik tua yang sudah tidak terpakai.




Penelusuran kembali dilanjutkan dengan melewati pematang sawah menuju situs Batu Wayang. Situs ini menurut cerita warga setempat sudah ada dari jaman dahulu dan uniknya terdapat gambar ukiran wayang yang tidak tau siapa pembuatnya. menurut keterangan warga juga setiap malam tertentu sering terdengar musik gamelan dari batu wayang ini.






Kita bergerak lagi ke daerah pemukiman warga dan disitu terdapat sebuat batu tua yang berlubang ditengahnya yang diperkirakan sudah ada sebelum desa itu ada.
Batu tua itu terdapat di belakang rumah salah satu warga.



Setelah sedikit beristirahat, kita melanjutkan perburuan situs dan candi ke daerah TIDARAN, yaitu disuatu daerah perkampungan penduduk yang disitunya terdapat banyak sekali batu peninggalan sejarah. Yang biasa disebut SITUS TIDAR.






YONI ini berada ditepi jalan kampung dan didepan rumah salah satu warga
Selain itu ditemukan juga sebuah YONI saat salah satu warga mencoba menggali sumur dengan kedalaman lebih kurang 15 meter.
situs dan batu candi didesa ini memang kurang terawat karena cuma dibiarkan saja, sebab minimnya pengetahuan akan besarnya berharganya suatu warisan budaya masa lalu.

YONI yang ditemukan didalam sumur 


Sumur tempat penemuan Yoni

Dari sini kita juga mendapat informasi dari warga setempat kalau memang didaerah sini terdapat banyak sekali batu dan situs peninggalan sejarah kerajaan masa lalu.



Setelah itu kita bergegas menuju suatu pemakaman umum didesa itu dan kami temukan sebuah YONI besar dengan posisi terbalik.


Diantara rimbunnya pohon bambu juga kami temukan YONI dan beberapa batu candi yang masih terukir relief cantik yang telah tertimbun tanah.







Hari telah sore dan diperkirakan masih banyak bertebaran situs, batu dan candi yang kemungkinan belum kami temukan. Sementara dihentikan dulu karena waktu sudah tidak memungkinkan lagi untuk penelusuran dan pencarian.



Secang, Jawa Tengah
robertsukasuka@2012, November 25
0

CANDI RETNO


Berada di Desa Candiretno kecamatan Secang, Magelang.Di sini terdapat sebuah peninggalan sejarah dari zaman kerajaan mataram kuno. yaitu sebuah candi dan di namakan CANDI RETNO. candi tersebut diduga peninggalan Kerajaan Mataram. Akan tetapi candi tersebut tidak terurus lagi sehingga rusak dan dari luar seperti sebuah kebun saja.
Biasanya Candi di Jawa terbuat dari bebatuan andesit yang digunakan sebagai bahan dasar ini menjadikan candi-candi itu tahan lama. Bahkan, tertimbun material puluhan tahun pun masih bisa bertahan. Secara mudahnya, batu andesit adalah batu gunung yang bisa berupa batuan gunung atau bongkahan batuan sungai. Sebenarnya, batuan andesit terbentuk dari pembekuan magma di permukaan. Karena sifatnya yang keras, batu andesit banyak dipakai sebagai bahan bangunan atau pondasi jalan. Ada juga yang menggunakannya sebagai kerajinan.
Namun anehnya CANDI RETNO adalah satu- satunya candi yang terbuat dari Batu bata, yang berukuran besar dan bentuk candi sudah tidak utuh, hanya tersisa bentuk pondasi dan batu bata yg berserakan.



Selain itu terdapat pula sebuah yoni yg berukuran cukup besar dan sebuah arca nandi yg kini sudah dipindah ke Museum Karmawibangga Borobudur.


Dari reruntuhan batu bata tersebut masih ada 2 buah antefiks yg masih tersisa dengan hiasan yg sangat bagus.



 CANDI RETNO terbentuk dari lempengan-lempengan batu bata berukuran besar. Bagian pondasi masih terlihat, sementara bentuk bangunannya hanya berupa tumpukan batu-batu yang tidak tertata dengan rapi. Tumpukan-tumpukan batu itu membentuk bilik-bilik yang berbeda ukuran satu sama lain. Batu-batu bata itu pun sudah dipenuhi dengan lumut. Faktor bahan dasar batu bata inilah yang kemungkinan besar menjadikan umur candi ini demikian singkat.
Ketika diadakan penggalian sekitar tahun 1979nan, ditemukan beberapa arca yang berbentuk hewan. Misalnya ganesha. Arca-arca itu terkubur dalam bilik-bilik yang ada di dalam candi. Bilik-bilik itu masih terlihat dari tumpukan-tumpukan batu bata yang tersisa. “Arca-arca itu sudah tidak ada di sini. Arca-arca itu sudah diboyong ke Prambanan,” tutur Pak Ruwadi, penjaga Candi Retno. Satu-satunya yang tertinggal adalah sebuah yoni. Keberadaan arca, lingga dan Yoni menjadikan pertanda bahwa candi ini merupakan peninggalan Hindu.






kota Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
robertsukasuka@2010, February
0

CANDI PENDEM

Awalnya, Candi Pendem digali oleh seorang Belanda benama de Plink. Ia tidak sendirian, tetapi melibatkan raktat. Karakter bangsa penjajah adalah menguasai, begitu mendapatkan kotak tembaga yang dicari dari penggalian tersebut, langkah de Plink berhenti begitu saja.
Itulah cerita yang selalu muncul dari penduduk setempat soal Candi Pendem ini. Cerita ini terus bergulir, turun-temurun sampai sekarang.
Candi ini berukuran 11,9 meter x 11,9 meter.
Seperti Candi Asu, yang lokasinya tidak jauh dari candi ini, di Candi Pendem juga konstruksinya belum selesai. Motif hiasan di tangga baru pada tahap awal alias motif Jaladwara, juga motif lain di candi.


Sesuai dengan namanya candi ini bernama Candi Pendem (Pendem = bahasa jawa) yang berarti candi yang dahulu terpendam didalam tanah, hal tersebut bisa dilihat dari lokasi candi yang berada di kedalaman sekitar 3 m dibawah permukaan lahan pertanian disekitarnya.Tetapi candi ini tidak pernah terendam dikala hujan karena adanya saluran pembuangan air. Sama seperti candi asu, candi ini pintu masuknya menghadap ke barat.




Candi ini terdiri dari kaki setinggi 1,88 meter dan sebagian tubuhnya berdekorasi relief. Di antaranya, relief burung di tengah pola hias sulur, pot dengan pola sulur, dan relief gana.
Di tengah-tengah candi terdapat lubang bekas sumur. Seperti dua candi lainnya, Candi Asu dan Lumbung, bahan pembuatan candi adalah batu Andesit dan didirikan pada masa kekuasaan Rakai Hayuwangi.
 Dalam prasasti Salingsingan yang ditemukan dan prasasti Sri Manggala tahun 874, disebutkan kegiatan dharma atau kegiatan keagamaan banyak dilakukan di tiga candi itu. Tidak ada penyataan yang menyebut Candi Pendem, namun prasasti memperlihatkan candi ini telah ada pada akhir abad VIII-IX. Sayangnya, prasasti sudah dipindah dari kompeks candi dan dipindah di Museum Candi Prambanan.





Terkait nama prasasti yang ditemukan, bernama Salingsingan. Karena pergeseran penyebutan lafal dan nama, penduduk setempat menyebut dengan nama Tlingsing. Kebetulan, di dekat candi memang ada Sungai Tlingsing
Candi Pendem berada sekitar 100 meter dari Candi Asu. Letak candi ini berada di belakang Dusun Candipos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun.



kota Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
robertsukasuka@2010, February