Candi Lumbung terletak di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan,
Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Candi ini berada tepat di tepi Kali
Apu, yang mengalir dari Gunung Merapi di lereng sisi barat. Tempat ini dapat
dicapai dari jalan raya Yogyakarta-Magelang di pertigaan Blabak (sekitar pabrik
kertas) ke arah Ketep. Candi ini terletak berdekatan dengan dua candi lain,
yaitu Candi Pendem dan Candi Asu. Ketiga candi sering disebut dengan
Candi-candi Sengi.
Tidak jelas apakah nama Lumbung memang merupakan nama candi ini atau nama itu hanya merupakan sebutan masyarakat di sekitarnya karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi).
Tidak jelas apakah nama Lumbung memang merupakan nama candi ini atau nama itu hanya merupakan sebutan masyarakat di sekitarnya karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi).
Tetapi karena adanya erosi merapi candi akhirnya
dipindahkan.
Proses pemindahan sekitar bulan September 2011, dengan jarak ke tempat yang baru sekitar 750m. Candi Lumbung Sengi yang terletak di Dusun Tlatar, Desa Krogowangan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang terancam longsor karena dampak aliran banjir lahar dingin di Sungai Apu akibat bencana letusan gunung Merapi. Kondisi candi sangat menghawatirkan, dimana vegetasi lereng dan lembah Sungai Apu termasuk lapisan breksi yang menjadi faktor alami perkuatan daya dukung tanah tempat candi Lumbung Sengi berdiri telah terkikis. Ketinggian tebing sekitar 15 – 20 meter dari Sungai Apu sudah cukup kritis. Sementara itu lebar bibir lokasi candi yeng semula 2 meter menjadi kurang dari 1 meter karena talud penahan yang dibangun pada tahun 2009 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah sudah terkikis berupa lubang-lubang pada beberapa bagian talud akibat terhantam material vulkanik yang terbawa arus lahar dingin pada tanggal 16 Januari 2011.
Banjir lahar dingin kembali terjadi pada hari Senin, 24 Januari 2011 di Sungai Apu yang mengakibatkan bertambah tingginya permukaan air sehingga semakin banyak vegetasi tebing sungai yang hanyut, lapisan breksi yang terkikis dan hanyutnya konstruksi talud. Ketinggian air Sungai Apu saat kondisi normal adalah 1 meter, sedangkan saat terjadi banjir lahar dingin permukaan air naik hingga mencapai 10 meter.
Banjir lahar dingin kembali terjadi pada hari Senin, 24 Januari 2011 di Sungai Apu yang mengakibatkan bertambah tingginya permukaan air sehingga semakin banyak vegetasi tebing sungai yang hanyut, lapisan breksi yang terkikis dan hanyutnya konstruksi talud. Ketinggian air Sungai Apu saat kondisi normal adalah 1 meter, sedangkan saat terjadi banjir lahar dingin permukaan air naik hingga mencapai 10 meter.
Candi Lumbung sebelum dipindah:
Candi Lumbung Setelah direlokasi :
Secara Arsitektural, Candi Lumbung Sengi memiliki
latar belakang Agama Hindu dan dibangun sekitar abad IX Masehi. Bangunannya berdiri di atas batur berdenah bujur sangkar dengan ukuran 8,43 x 8,43 meter, dan menghadap ke arah barat.Jika dilihat
dari sumber prasasti tampak bahwa Candi Lumbung Sengi ini kemungkinan merupakan
pendharmaan bagi Bathara di Salingsingan yang ditujukan melalui jenis
persembahan khususnya berupa payung mas yang diberikan oleh Rakai Kayuwangi.
Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa Bhatara di Salisingan
adalah tokoh yang penting,walaupun belum terungkap identitasnya.
Tangga naik ke candi
Ruang dalam Candi Lumbung
Di bagian ruang utama candi terdapat sumuran (sama dengan yang terdapat di Candi Asu dan Candi Pendem), biasanya sumuran diruang utama candi merupakan tempat menyimpan "peripih" yang berisi relic. perhiasan, abu/tulang, dsb.
Atap Candi Lumbung
Peripih ini sering kali dihubungkan dengan bekal kubur, karena ada anggapan tentang Kultus Dewa-Raja, bahwasanya Raja adalah wakil Dewa didunia, sehingga ada penghormatan yang "hampir sama" disamping pencampuran kepercayaan terhadap nenek moyang. Implementasinya berupa candi yang berada diruang utama dengan arca utama berdiri tepat diatas sumuran yang dibawahnya terdapat peripih, jadi adanya penyatuan perhormatan.
Candi Lumbung Tampak dari Belakang
Ada beberapa batu yang belum tersusun :
Inilah salah satu cagar budaya yang perlu kita rawat :
kota Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
robertsukasuka@2010, February













0 komentar:
Posting Komentar