SlideShow

0

CANDI LOSARI


Candi Losari adalah sebuah candi bernuansa Hindu, yang terletak di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini cukup unik, karena keadaannya yang kini terendam air karena belum sepenuhnya tergali utuh, sementara lokasinya berada di bawah permukaan tanah.

Candi Losari ditemukan di tengah kebun salak ketika Badri, ketika pemiliknya, menggali parit pada tanggal 11 Mei 2004. Di galian tersebut ternyata terdapat banyak batu candi.

Waktu itu, Badri, yang seorang guru SMP Negeri 12 di Kota Magelang, membawa pulang batu-batu tersebut dan menyusun lagi di halaman rumahnya. Penemuan ini kemudian ditindaklanjuti dengan ekskavasi arkeologis dan rekonstruksi oleh pemerintah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dan Balai Arkeologi Yogyakarta





Diperkirakan, candi tertimbun akibat erupsi Gunung Merapi ratusan tahun lampau. Kawasan Candi Losari sendiri sementara ini terdiri dari satu candi utama yang masih terbengkalai, dan tiga candi perwara (pendamping) berukuran sekitar 3x3 meter yang sudah tertata ulang dengan cukup baik.

Penelitian sudah dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Magelang, untuk mengungkap keberadaan candi ini, sejak 2008. Akhirnya satu demi satu bagian-bagian dari candi perwara dan candi induk itu mulai terungkap, dan kini bisa dilihat.





Pada dinding candi induk ditemukan relief mahakala, yang merupakan salah satu dewa penjaga pintu masuk candi. Candi induk berbentuk bujursangkar dengan perkiraan luas 360 x 360 cm², dengan kaki candi seluas 500 x 500 cm². Yang belum berhasil ditemukan dalam penelitian ini adalah pagar kelilingnya. Saat ini pun penggalian masih diteruskan, namun menunggu musim kemarau datang, sehingga tiada air yang menggenangi candi.





Candi ini merupakan candi Hindu, di abad ke-9 Masehi dari zaman Kerajaan Mataram Kuno. ”Itu terlihat dari relief (ukiran) di salah satu candi perwara yang telah terungkap
Candi ini terkubur lahar dingin letusan Gunung Merapi--diperkirakan terjadi 925-928 Masehi. Berdasar jarak antarcandi (0-2 km), candi ini dimasukkan dalam kelompok Candi Gunung Wukir bersama Candi Mantingan.




sedikit kilas balik sejarah :
Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Rakai Sumba berakhir dengan tiba-tiba. Hal itu dikarenakan letusan Gunung Merapi yang terhebat sepanjang sejarahnya. Menurut R.W van Bemmelan (Nugroho Notosusanto, 1990: 154) letusan itu demikian dahsyatnya sehingga sebagian besar puncaknya lenyap dan terjadi lipatan yang antara lain membentuk Gunung Gendol, karena gerakan tanah itu terbentur pada lempengan Pegunungan  Menoreh. Letusan tersebut disertai gempa bumi, banjir lahar dan hujan abu dan batu-batuan yang sangat mengerikan. Bencana alam ini mungkin merusak Ibu Kota Medang dan banyak daerah pemukiman di Jawa Tengah, sehingga oleh rakyat dirasakan sebagai pralaya atau kehancaran dunia.
Untuk menghindari keruntuhan Kerajaan Mataram, maka Mpu Sindok memegang kendali Kerajaan Mataram dengan cara memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur.  Ibukota Kerajaan Mataram dari Medang dipindahkan ke Taamwlang (Marawati Djoened Poesponegoro dkk, 1990 : 155), di daerah inilah beliau selanjutnya bergelar Pu  Sindok Sri  Isanatunggadewawijaya. Nama wangsa juga mengalami perubahan dari Wangsa Sailendra menjadi Wangsa Isana.   
   Akibat letusan Gunung Merapi,  daerah di sekitar terkena lahar sehingga permukaan tanah semakin tinggi dibandingkan dengan permukaan tanah sebelumnya. Pelapisan tanah kebanyakan mengandung unsur pasir, lumpur, dan abu. Hal tersebut membawa berkah penduduk  karena sesuai  untuk tanaman  salak pondoh  khususnya di daerah Muntilan, Salam, Dukun, Srumbung, Ngluwar, dan  Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.



kota Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
robertsukasuka@2010, February

0 komentar:

Posting Komentar